Jumat, 14 Agustus 2009

Jamrud Khatulistiwa Dulu dan Sekarang

Jamrud Khatulistiwa
Keenan Nasution

Aku bahagia
hidup sejahtera di khatulistiwa
Alam berseri-seri bunga beraneka
mahligai rama-rama
Bertajuk cah'ya jingga
surya di cakrawala

S'lalu berseri
alam indah permai
di khatulistiwa
Persada senyum tawa
hawa sejuk nyaman
Wajah pagi rupawan
Burung berkicau ria
bermandi embun surga

Reff:
Syukur ke hadirat
Yang Maha Pencipta
Atas anugerah Nya
tanah nirmala

Bersuka cita
insan di persada
yang aman sentosa
Damai makmur merdeka
di setiap masa
Bersyukurlah kita semua
(bersatulah kita semua)

S'lalu Berseri
alam indah permai di Indonesia
Negeri tali jiwa
Hawa sejuk nyaman
wajah pagi rupawan
Burung berkicau ria
bermandi embun surga

Syukur ke hadirat
Yang Maha Kuasa
Atas anugerah Nya
tanah bijana

Pada 1994 Indonesia mendapat sebutan negara "megabiodiversity" oleh World Conservation Monitoring Committee. Hal itu terkait besarnya jumlah keanekaragaman flora dan fauna yang dimiliki. Saat itu, Indonesia memiliki 10 persen jenis tumbuhan berbunga dari 27.500 jenis tumbuhan di dunia, 12 persen jenis mamalia dari 515 jenis mamalia di dunia, 17 persen jenis burung dari 1.592 seluruh jenis burung di dunia, serta 16 persen reptilia dan amfibia dari 781 jenis di seluruh dunia.
Luas hutan alam asli Indonesia menyusut dengan kecepatan yang sangat mengkhawatirkan. Hingga saat ini, Indonesia telah kehilangan hutan aslinya sebesar 72 persen [World Resource Institute, 1997]. Laju kerusakan hutan periode 1985-1997 tercatat 1,6 juta hektar per tahun, sedangkan pada periode 1997-2000 menjadi 3,8 juta hektar per tahun. Ini menjadikan Indonesia merupakan salah satu tempat dengan tingkat kerusakan hutan tertinggi di dunia. Di Indonesia berdasarkan hasil penafsiran citra landsat tahun 2000 terdapat 101,73 juta hektar hutan dan lahan rusak, diantaranya seluas 59,62 juta hektar berada dalam kawasan hutan. [Badan Planologi Dephut, 2003].

Pada abad ke-16 sampai pertengahan abad ke-18, hutan alam di Jawa diperkirakan masih sekitar 9 juta hektar. Pada akhir tahun 1980-an, tutupan hutan alam di Jawa hanya tinggal 0,97 juta hektar atau 7 persen dari luas total Pulau Jawa. Saat ini, penutupan lahan di pulau Jawa oleh pohon tinggal 4 %. Pulau Jawa sejak tahun 1995 telah mengalami defisit air sebanyak 32,3 miliar meter kubik setiap tahunnya.


Sebuah Dongeng Tentang Jamrud Katulistiwa
Oleh: Eka Sulistiyana

Eka Sulistiyana

Sebuah Dongeng Tentang Jamrud Katulistiwa

di ambang batas kemengertianku;
terselip ketidaktahuan dan rasa bodoh;
di ujung harapan kedamaianku;
terbentur ketidakmampuan dan rasa khawatir;
di tepi kehidupanku;
terbentur pada keinginan dan rasa benci;

lalu ku mencoba untuk tahu
akan makna dan arti sebuah
kedamaian, kesejahteraan, kemakmuran, keadilan; dan
keteladanan, keamanan serta kemerdekaan

kedamaian di negeri ini hanya ada pada sebait lagu
negeri di awan;
kesejahteraan, kemakmuran dan keadilan
hanya sebatas tulisan pada sila-sila di Pancasila dan UUD 1945
keteladanan, hanya aku temukan dalam dongeng dan cerita tentang Nusantara
keamanan, di negeri ini hanya sebatas bagi mereka yang punya uang dan kekuasaan;
kemerdekaan di negeri ini hanya aku dapatkan dari teks
Proklamasi dan Lagu Wajib Nasional.

jauh ku menerawang pada sebuah angan...
lalu ada tanya pada batinku..
di mana jamrud khatulistiwa..
di mana negeri yang gemah ripah loh jinawi;
tata tentrem karta raharjo

di mana Indonesia dengan Pancasila dan UUD 1945-nya
ataukah itu hanya dongeng dan lagu yang cukup dinyanyikan;
dan tidak perlu tindakan nyata...

dan ku coba merangkai kata untuk siapkan jawaban
akan tanya si kecil-ku nanti...
"yah... di mana letak negeri yang damai, sejahtera, adil dan makmur, aman sentausa dan pemimpin yang bisa jadi teladan dan tempat berlindung bagi rakyatnya."
yang entah sampai kapan kutemukan sebuah jawab



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar